"Perumpamaan orang Mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah, aromanya harum dan manis rasanya. Dan Perumpamaan orang Mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti buah korma, rasanya manis tapi sayang tidak beraroma". (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangankan manusia, ruangan saja jika beraroma harum akan mempunyai pengaruh besar bagi kenyamanan fisik dan jiwa kita. Harum pada manusia adalah kiasan yang juga mempunyai pengaruh sama, yakni menyamankan lingkungan sekitar ia hidup. Bukan hanya dia yang hidup nyaman, tapi ia juga menyamankan yang lain. Mungkin inilah maksud Nabi membuat metafor diatas. Yang jelas telah menjadi kesepakatan umum bahwa aroma yang harum memang menjadi ketertarikan tersendiri serta nilai tambah yang tak dapat disangkal lagi. Perlu banyak renungan untuk mengupas hadist diatas guna mengupas diri kita sendiri. Masuk kriteria yang manakah diri kita????????? Apakah kita sudah menjadi mukmin 'beraroma' yang nyaman dan menyamankan orang lain minimal dilingkungan kita bertempat? Ataukah hanya hidup sekedar hidup, tak mempunyai 'keharuman' hidup untuk diri dan orang lain?
ah,.. Siapapun kita, harapan kita adalah seperti yang pertama. Amin. Karenanya wujudkan harapan itu, mulailah dengan membiasakan rutin baca Al-Quran di bulan Ramadhan tahun ini. bukankah belum tentu tahun depan kita jumpai ramadan lagi? jadi, gunakan untuk harapan mulia diatas. Mari jadi muslim yang beraroma Mari baca Al-Quran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar